Make your own free website on Tripod.com

TARUMANAGARA KINGDOM AND ITS SMALL KINGDOMS

The first kingdom in Sunda land was Tarumanagara which was founded by Rajadirajaguru Jayasingawarman in 358. He died in 382 and was buried at the bank of Gomati river (present-day Bekasi City). His son, Dharmayawarman, inherited the kingdom. Dharmayawarman died in 395 and was burried by the bank of Candrabaga. Purnawarman became the third king of Tarumanagara (395 – 434) on Dharmayawarman’s death.

In 397, King Purnawarma established a new capital city for the kingdom located nearer to seashore and named it "Sunda Pura" meaning Holy Town or Pure Town. Thus, word “Sunda” was introduced for the first time by King Purnawarman in 397.

Book “Nusantara”, parwa II sarga 3 (page 159 - 162) notes that under the reign of King Purnawarman, Tarumanagara held control over 48 small kingdoms with a large area stretching from Salakanagara or Rajatapura (in the area of Teluk Lada, Pandeglang) to Purwalingga (now Purbalingga in Central Java Province). Traditionally, Cipamali river (Brebes river) was indeed defined as the border between Sunda land and Java land.

An inscribed stone in the Sanskrit language, which is a relic from the Tarumanegara kingdom during the reign of King Purnawarman in 450 can still be found in the village of Ciaruteun Ilir, regency of Bogor.

In 526, Suryawarman, one of the kings of Tarumanagara established a new capital city for the kingdom in eastern part of Sunda land and left Sunda Pura and its communities to preserve their own order. Then, Sunda Pura become a new small kingdom called Sunda Sambawa which was under the control of Tarumanagara kingdom.

In 612, Wretikandayun, a grandson of Manikmaya (a son in law of King Suryawarman) established a small kingdom called Galuh with its capital city located in Banjar Pataruman.

In about 650, Tarumanagara kingdom was attacked and defeated by Srivijaya (a kingdom established in Sumatra island in 500). Then, Tarumanegara influence on its small kingdoms began to decline.

In 669, Tarusbawa (coming from Sunda Sambawa and son in law of king Linggawarman, the 12th king of Tarumanagara) inherited Tarumanagara Kingdom. Tarusbawa is the last king of the kingdom. This matter is in line with Chinese chronicles mentioning that a messenger of Tarumanagara last visited China in 669. Tarusbawa indeed sent his messenger advising his enthronement to Chinese king in 669.

Because the influence of Tarumanagara kingdom in his era was declined as a result of severance by its vassal states as well as due to the attacks by Srivijaya, he wished to return the greatness of the kingdom as was in the era of Purnawarman controllling the kingdom from Sunda Pura. Hence, in 670, he changed name Tarumanagara to be Sunda. This event was made as a reason by king Wretikandayun (Monarchic founder of Galuh) to dissociate the small kingdom from the power of Tarumanagara and asked King Tarusbawa to devide Tarumanagara territory into two parts..

Galuh got a support from Kalingga kingdom (the first kingdom in Java land) to separate from Tarumanagara because Galuh and Kalingga had made an alliance through dynastic marriage; a son of King Wretikandayun married Parwati (a daughter of Queen Sima) from Kalingga and Sana alias Bratasenawa alias Sena (a grandson of King Wretikandayun) married Sanaha (a granddaughter of Queen Sima).

In a weak position and wishing to avoid civil war, young King Tarusbawa accepted the request of old King Wretikandayun. In 670, Tarumanagara was devided into two kingdoms, they are: Sunda Kingdom and Galuh Kingdom with Citarum river as the boundary between the two kingdoms. Then Galuh Kingdom  comprised of many vassal kingdoms which covered areas of present-day West and Central Java Provinces.

King Tarusbawa then established a new capital of his kingdom located near Cipakancilan river upstream which later became the city of Pakuan Pajajaran (or shortly called Pakuan or Pajajaran). King Tarusbawa becomes the ancestor of Sunda kings.

To tie the relationship between Sunda Kingdom and Galuh Kingdom, Tarusbawa had his granddoughter married Sanjaya (a son of Sana).

 

SUNDA KINGDOM, GALUH KINGDOM, AND SMALL KINGDOMS

In 716 M, when Sana became the third king of Galuh, Purbasora, a prince of small kingdom of Galunggung (located in present-day Tasik Malaya City), in alliance with a small kindom of Indraprahasta (located in present-day Cirebon city), attacked Galuh. Sana was deposed and fled Galuh to Kalingga thus Purbasora gained the throne of Galuh Kingdom.

Sanjaya became the second king of Sunda replacing Tarusbawa in 723. Sanjaya is also wellknown as Prabu Harisdarma. King Sanjaya wanted revenge because Purbasora had turned down Sana. He attacked and succeded to control Galuh and all of Purbasora family was killed. Indraprahasta kingdom was also destroyed.

King Sanjaya himself was not interested in becoming a ruler of Galuh. He attacked Galuh just for wanting revenge for his father was deposed by Purbasora. Beside that, as a ruler of Sunda Kingdom, he had to be in Pakuan Pajajaran. King Sanjaya put Premana Dikusumah (a grandson of Purbasora) upon his throne as King of Galuh.

King Premana Dikusumah had a son named Surotama alias Manarah from Queen Naganingrum. (Manarah born in 718, thus was 5 years old when King sanjaya attacked Galuh). Manarah is wellknown in classical Sunda Literature as Ciung Wanara.

To form a mutual bond as a foundation of long lasting alliance, King Sanjaya made King Premana dikusumah married Dewi Pangreyep (a doughter of Prime Minister of Sunda Kingdom). King Sanjaya also assigned Prince Tamperan, his son, as prime minister of Galuh Kingdom and to lead Sunda "garnizun" in the capital of Galuh Kingdom.

King Premana Dikusumah was more opting leave palace to do penance near Citarum river and at the same time also left his wife (Pangreyep). He asked Tamperan to continu his duties as ruler. This led to scandal as Pangrenyep become Tamperan mistrees dan hasilnya adalah kelahiran Kamarasa alias Banga (723 M). Skandal ini terjadi karena beberapa alasan, pertama Pangreyep pengantin baru berusia 19 tahun dan kemudian ditinggal suami bertapa; kedua keduanya berusia sebaya dan telah berkenalan sejak lama di Keraton Pakuan dan sama-sama cicit Tarusbawa; ketiga mereka sama-sama merasakan derita batin karena kehadirannya sebagai orang Sunda di Galuh kurang disenangi. Untuk menghapus jejak Tamperan mengupah seseorang membunuh Premana dan sekaligus diikuti pasukan lainnya sehingga pembunuh Premana pun dibunuh pula.

Sebagai ahli waris Kalingga, Sanjaya kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut BUMI MATARAM (kerajaan Medang) dalam tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana yang bernama Tamperan atau Rakeyan Panaraban.

Demikianlah Tamperan menjadi penguasa Sunda-Galuh melanjutkan kedudukan ayahnya dari tahun 732 - 739 M. Sementara itu Manarah (Ciung Wanara) secara diam-diam menyiapkan rencana perebutan tahta Galuh. Rupanya Tamperan lalai mengawasi anak tirinya ini yang ia perlakukan seperti anak sendiri.

Kudeta itu berhasil dalam waktu singkat. Raja Tamperan dan permaisuri Pangreyep tewas sedangkan Bangga kemudian dibiarkan bebas. Berita kematian Tamperan didengar oleh Sanjaya yang ketika itu memerintah di Medang yang kemudian dengan pasukan besar menyerang purasaba Galuh. Namun Manarah telah menduga itu sehingga ia telah menyiapkan pasukan yang juga didukung oleh sisa-sisa pasukan Indraprahasta (ketika itu sudah berubah nama menjadi Wanagiri) dan raja-raja di daerah Kuningan yang pernah dipecundangi Sanjaya.

Perang besar sesama keturunan Wretikandayun (pendiri kerajaan Galuh) itu akhirnya bisa dilerai oleh Rajaresi Demunawan (adik Purbasora) yang ketika itu berusia 93 tahun. Dalam perundingan di keraton Galuh dicapai kesepakatan: Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga. Demikianlah lewat perjanjian Galuh tahun 739 ini, Sunda dan Galuh yang selama periode 723 - 739 berada dalam satu kekuasan terpecah kembali. Dalam perjanjian itu ditetapkan pula bahwa Banga menjadi raja bawahan. Meski Banga kurang senang, tetapi ia menerima kedudukan itu. Ia sendiri merasa bahwa ia bisa tetap hidup atas kebaikan hati Manarah. Untuk memperteguh perjanjian, Manarah dan Banga dijodohkan dengan kedua cicit Demunawan (adik Purbasora). Manarah sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana memperistri Kancanawangi. Banga sebagai Raja Sunda bergelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya berjodoh dengan Kancanasari adik Kancanawangi.

Naskah tua dari kabuyutan Ciburuy (Bayongbong, Garut) yang ditulis dalam abad ke-13 atau ke-14 memberitakan bahwa Rakeyan Banga pernah membangun Parit Pakuan. Hal ini dilakukannya sebagai persiapan untuk mengukuhkan diri sebagai raja yang merdeka. Ia harus berjuang 20 tahun sebelum berhasil menjadi penguasa yang diakui di sebelah barat Citarum dan lepas dari kedudukan sebagi raja bawahan Galuh. Ia memerintah 27 tahun lamanya (739 - 766). Manarah di Galuh memerintah sampai tahun 783.

Keturunan Manarah putus hanya sampai cicitnya yang bernama Prabu Linggabumi (813 - 852). Tahta Galuh diserahkan kepada suami adiknya yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon (819 - 891) cicit Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8 (dihitung dari Tarusbawa). Sejak tahun 852 M kedua kerajaan pecahan Tarumanagara itu diperintah oleh keturunan Banga sebagai akibat perkawinan diantara para kerabat keraton: Sunda; Galuh dan Kuningan (Saunggalah).

Di bawah ini adalah urutan raja-raja Sunda sampai Sri Jaya Bupati yang berjumlah 20 orang:

1. Maharaja Tarusbawa 669 - 723 M
2. Sanjaya Harisdarma (cucu-menantu no. 1) 723 - 732 M
3. Tamperan Barmawijaya 732 - 739 M
4. Rakeyan Banga 739 - 766 M
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang 766 - 783 M
6. Prabu Gilingwesi (menantu no. 5) 783 - 795 M
7. Pucukbumi Darmeswara (menantu no. 6) 795 - 819 M
8. Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus 819 - 891 M
9. Prabu Darmaraksa (adik-ipar no. 8) 891 - 895 M
10. Windusakti Prabu Dewageng 895 - 913 M
11. Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi 913 - 916 M
12. Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa (menantu no. 11) 916 - 942 M
13. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa 942 - 954 M
14. Limbur Kancana (putera no. 11) 954 - 964 M
15. Prabu Munding Ganawirya 964 - 973 M
16. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung 973 - 989 M
17. Prabu Brajawisesa 989 - 1012 M
18. Prabu Dewa Sanghyang 1012 - 1019 M
19. Prabu Sanghyang Ageng 1019 - 1030 M
20. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati 1030 - 1042 M

Kecuali Tarusbawa (no. 1), Banga (no. 4) - Darmeswara (no. 7) yang hanyaberkuasa di kawasan sebelat barat Citarum, raja-raja yang lainnya berkuasa di Sunda dan Galuh

 

PERPINDAHAN PUSAT KERAJAAN SUNDA

Keturunan Manarah yang laki-laki terputus sehingga pada tahun 852 tahta Galuh jatuh kepada keturunan Banga, yaitu Rakeyan Wuwus yang beristrikan puteri keturunan Galuh. Sebaliknya adik perempuan Rakeyan Wuwus menikah dengan putera Galuh yang kemudian menggantikan kedudukan iparnya sebagai Raja Sunda IX dengan gelar Prabu Darmaraksa Buana. Kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh. Prabu Darmaraksa (891 - 895) dibunuh oleh seorang menteri Sunda yang fanatik.

Karena peristiwa itu, tiap Raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895 sampai tahun 1311 kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.

Ayah Sri Jayabupati berkedudukan di Galuh, Sri Jayabupati di Pakuan, tetapi puteranya berkedudukan di Galuh lagi. Dua raja berikutnya (Raja Sunda ke-22 dan ke-23) memerintah di Pakuan. Raja ke-24 memerintah di Galuh dan raja ke-25, yaitu Prabu Guru Darmasiksa mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Puteranya (Prabu Ragasuci) berkedudukan di Saunggalah dan dipusarakan di Taman, Ciamis.

Proses kepindahan seperti ini memang merepotkan (menurut pandangan kita), namun pengaruh positifnya jelas sekali dalam hal pemantapan etnik di Jawa Barat. Antara Galuh dengan Sunda memang terdapat kelainan dalam hal tradisi. Orang Galuh itu "orang air", sedang orang Sunda "Orang Gunung". Yang satu memiliki "mitos buaya", yang lain "mitos harimau".

Di daerah Ciamis dan Tasikmalaya masih ada beberapa tempat yang bernama Panereban. Tempat yang bernama demikian pada masa silam merupakan tempat melabuhkan (nerebkeun) mayat karena menurut tradisi Galuh, mayat harus "dilarung" (dihanyutkan) di sungai. Sebaliknya orang Kanekes yang masih menyimpan banyak sekali "sisa-sisa" tradisi Sunda, mengubur mayat dalam tanah. Tradisi "nerebkeun" di sebelah timur dan tradisi "ngurebkeun" di sebelah barat membekas dalam istilah Panereban dan Pasarean.

Peristiwa sejarah telah meleburkan kedua kelompok sub-etnik ini menjadi satu . Dalam abad ke-14 sebutan SUNDA itu sudah meliputi seluruh Jawa Barat, baik dalam pengertian wilayah maupun dalam pengertian etnik.


Peran bergeser ke timur

Dalam abad ke-14 di timur muncul kota baru yang makin mendesak kedudukan Galuh dan Saunggalah, yaitu Kawali (yang berarti kuali atau belanga). Lokasinya strategis karena berada di tengah segitiga Galunggung, Saunggalah dan Galuh. Sejak abad XIV ini Galuh selalu disangkutpautkan dengan Kawali. Dua orang Raja Sunda dipusarakan di Winduraja (sekarang bertetangga desa dengan Kawali).

Sebenarnya gejala pemerintahan yang condong ke timur sudah mulai nampak sejak masa pemerintahan Prabu Ragasuci (1297 - 1303). Ketika naik tahta menggantikan ayahnya (Prabu Darmasiksa), ia tetap memilih Saunggalah sebagai pusat pemerintahan karena ia sendiri sebelumnya telah lama berkedudukan sebagai raja di timur. Tetapi pada masa pemerintahan puteranya Prabu Citraganda, sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan.

Ragasuci sebenarnya bukan putera mahkota karena kedudukanya itu dijabat kakaknya Rakeyan Jayadarma. Menurut PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA parwa II sarga 3, Jayadarma adalah menantu Mahisa Campaka di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan Dyah Singamurti alias Dyah Lembu Tal. Mereka berputera Sang NArarya Sanggramawijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya (lahir di Pakuan). Karena Jayadarma wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Dalam BABAD TANAH JAWI, Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari PAJAJARAN yang kemudian menjadi Raja Majapahit yang pertama. Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur.

Prabu Darmasiksa kemudian menunjuk putera Prabu Ragasuci sebagai calon ahli warisnya yang bernama Citraganda. Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa (Puteri Kerajaan Melayu) adik Dara Kencana isteri Kertanegara. Citraganda tinggal di Pakuan bersama kakeknya. Ketika Prabu Darmasiksa wafat, untuk sementara ia menjadi raja daerah selama 6 tahun di Pakuan (ketika itu Raja Sunda dijabat ayahnya di Saunggalah). Dari 1303 sampai 1311, Citraganda menjadi Raja Sunda di Pakuan dan ketika wafat ia dipusarakan di Tanjung.

Prabu Lingga Dewata (putera Citraganda) mungkin berkedudukan di Kawali. Yang pasti, menantunya Prabu Ajiguna Wisesa (1333 - 1340) sudah berkedudukan di Kawali dan sampai tahun 1482 pusat pemerintahan tetap berada di sana. Bisa disebut bahwa tahun 1333 - 1482 adalah Jaman Kawali dalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat dan mengenal 5 orang raja, yaitu: Prabu Maharaja Lingga Buana, Mangkubumi Suradipati atau Prabu Bunisora, Prabu Raja Wastu atau Niskala Wastu Kancana, Ningrat Kancana (setelah menjadi penguasa Galuh bergelar Prabu Deawa Niskala), dan Jayadewata.

Setelah Wastu Kancana wafat tahun 1475, kerajaan dipecah dua diantara Susuktunggal dan Dewa Niskala dalam kedudukan sederajat. Politik kesatuan wilayah telah membuat jalinan perkawinan antar cucu Wastu Kencana. Jayadewata (putera Dewa Niskala), mula-mula memperistri Ambetkasih (puteri Ki Gedeng Sindangkasih), kemudian memperistri Subanglarang (puteri Ki Gedeng Tapa yang menjadi Raja Singapura). Subanglarang ini keluaran pesantren Pondok Quro di Pura, Karawang. Ia seorang wanita muslim murid Syeh HAsanudin yang menganut Mazhab Hanafi. Pesantren Qura di Karawang didirikan tahun 1416 dalam masa pemerintahan Wastu Kancana. Subanglarang belajar di situ selama 2 tahun. Ia adalah nenek Syarif Hidayatullah. Kemudian Jayadewata mempersitri Kentring Manik Mayang Sunda (puteri Prabu Susuktunggal). Jadilah antara Raja Sunda dan Raja Raja Galuh yang seayah ini menjadi besan.

 

Ibukota kembali ke Pakuan

Kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V), Raja Majapahit tahun 1478, telah mempengaruhi jalan sejarah di Jawa Barat. Rombongan pengungsi dari kerabat keraton Majapahit akhirnya ada juga yang sampai di Kawali. Salah seorang diantaranya ialah Raden Baribin saudara seayah Prabu Kertabumi. Ia diterima dengan baik oleh Prabu Dewa Niskala bahkan kemudian dijodohkan dengan Ratna Ayu Kirana (puteri bungsu Dewa Niskala dari salah seorang istrinya), adik Raden Banyak Cakra (Kamandaka) yang telah jadi raja daerah di Pasir Luhur.

Prabu Dewa Niskala menyerahkan tahta Kerajaan Galuh kepada puteranya Jayadewata. Demikian pula dengan Prabu Susuktungal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini (Jayadewata). Dengan peristiwa yang terjadi tahun 1482 itu, kerajaan warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan. Jayadewata memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan sebagai "Susuhunan" karena ia telah lama tinggal di sini menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan.

Jaman Pajajaran

Jaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Prabu Jayadewata (Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) yang memerintah Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh selama 39 thaun (1482 - 1521). Pada masa inilah ibukota Pakuan atau Pajajaran mencapai puncak perkembangannya.

Dalam Carita Parahiyangan, dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama (Hindu).

Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I serga 2 menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat (cucu Sri Baduga Maharaja dari Lara Santang) dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) di Cirebon dan menjadi raja merdeka dengan menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang). Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana.

Kemudian diceritakan bahwa kerjaan Islam pertama di pulau Jawa, yaitu Kerajaan Demak, menempatkan pasukan Angkatan Laut yang kuat di Pelabuhan Cirebon untuk menjaga kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.

Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh PUROHITA (pendeta tertinggi) keraton Ki Purwa Galih. Karena Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran.

Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun pagelaran (formasi tempur). (Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut).

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah JUNG (adakah yang tahu artinya?) dari 150 ton dan beberala lankaras (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun).

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada 4 pasangan yang dijodohkan, yaitu:
1. Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi)
2. Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor
3. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun
4. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa)

Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis Alfonso d'Alburquerque di Malaka (ketika itu baru saja merebut Pelabuhan Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayatullah) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya (Subanglarang) adalah muslimah dan ketiga anaknya (Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang dan Raja Sangara) diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing-masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai jaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur). Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Pengganti Sri Baduga Maharaja adalah Surawisesa. Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d'Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521). Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan. Dalam kunjungan itu disepakati persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan.

Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Sunda akan menyerahkan 1000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua "costumodos" (kurang lebih 351 kuintal).

Perjanjian Pajajaran - Portugis sangat mencemaskan TRENGGANA (Sultan Demak III). Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus. Trenggana segera mengirim armadanya di bawah pimpinan Fadillah Khan yang menjadi Senapati Demak.

Pasukan Fadillah yang merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1967 orang. Sasaran pertama adalah Banten, pintu masuk Selat Sunda. Kedatangan pasukan ini telah didahului dengan huru-hara di Banten yang ditimbulkan oleh Pangeran Hasanudin dan para pengikutnya. Kedatangan pasukan Fadillah menyebabkan pasukan Banten terdesak. Bupati Banten beserta keluarga dan pembesar keratonnya mengungsi ke Ibukota Pakuan. Hasanudin kemudian diangkat oleh ayahnya (Susuhunan Jati), menjadi Bupati Banten (1526). Setahun kemudian, Fadillah bersama 1452 orang pasukannya menyerang dan merebut pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa bersama keluarga dan para menteri kerajaan yang bertugas di pelabuhan gugur. Pasukan bantuan dari Pakuan pun dapat dipukul mundur. Keunggulan pasukan Fadillah terletak pada penggunaan meriam yang justru tidak dimiliki oleh Laskar Pajajaran.

Bantuan Portugis datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Kapal brigantin (dipimpin Duarte Coelho) ke Pelabuhan Kalapa. Coelho terlambat mengetahui perubahan situasi, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fadillah. Dengan kerusakan yang berat dan korban yang banyak, kapal Portugis ini berhasil meloloskan diri ke Pasai.

Setelah Sri Baduga wafat, Pajajaran dengan Cirebon berada pada generasi yang sejajar. Keengganan Cirebon menjamah pelabuhan atau wilayah lain di Pajajaran menjadi hilang.

Perang Cirebon - Pajajaran berlangsung 5 tahun lamanya. Yang satu tidak berani naik ke darat, yang satunya lagi tak berani turun ke laut. Cirebon dan Demak hanya berhasil menguasai kota-kota pelabuhan. Hanya di bagian timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan. Pertempuran dengan Galuh terjadi tahun 1528. Di sini pun terlihat peran Demak karena kemenangan Cirebon terjadi berkat bantuan Pasukan Meriam Demak tepat pada saat pasukan Cirebon terdesak mundur. Laskar Galuh tidak berdaya menghadapi "panah besi yang besar yang menyemburkan kukus ireng dan bersuara seperti guntur serta memuntahkan logam panas". Tombak dan anak panah mereka lumpuh karena meriam. Maka jatuhlah Galuh. Dua tahun kemudian jatuh pula Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh.

Tahun 1531 tercapai perdamaian antara Surawisesa dan Syarif Hidayatullah. Masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka.

Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakkan, ia berkesempatan menerawang situasi dirinya dan kerajaannya. Warisan dari ayahnya hanya tinggal setengahnya, itupun tanpa pelabuhan pantai utara yang pernah memperkaya Pajajaran dengan lautnya. Dengan dukungan 1000 orang pasukan belamati yang setia kepadanyalah, ia masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya.

Surawisesa dalam kisah tradisional lebih dikenal dengan sebutan Guru Gantangan atau Munding Laya Dikusumah. Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya.

Meanwhile, the last king of Pajajaran and a small number of his followers resisted the coming wave of Islam. He came into conflict with Banten and Cirebon kingdoms until he was defeated by the Cirebon armies in 1578. A small number of his followers fleed to remote Kendeng mountains, Banten, and they formed a community called Baduy.

Then Dutch come for the first time to Tanah Sunda in 1595. The Dutch established their own port in Jayakarta in 1619. They called the port as Batavia. From the port, the Dutch gradually extended their control over the Java island.

Because of its political and religious vitality, Bantam soon came into conflict with the colonial power of Batavia, which eventually caused its downfall.

Except for occupation by the British from 1811-1816, Tanah Sunda was a Dutch colony until the establishment of Indonesia in 1945 when Tanah Sunda started to become one of its provinces.